zakat-fitrah

ZAKAT FITRAH

Zakat fitrah terdiri dari dua kata, yaitu: zakat yang bermakna tumbuh, bertambah dan berkah. Sedangkan fitri dari kata al-fithr yang bermakna makan. Dari kata al-fithr ini dikenal kata ifthar yang maknanya adalah makan untuk berbuka puasa. Adapun kata futhur artinya sarapan pagi. zakat fitrah adalah zakat yang wajib disebabkan berbuka dari puasa ramadhan. Zakat fitrah hukumnya wajib atas setiap muslim, anak kecil atau dewasa, laki-laki atau wanita, budak atau merdeka. Zakat fitrah diwajibkan bukan karena sebab kepemilikan harta secara khusus, namun sebagai kewajiban yang dibebankan karena berada di penghujung bulan Ramadhan.

Para ulama sepakat bahwa zakat fitrah atau biasa juga disebut dengan istilah shadaqah al-fithr disyariatkan dalam Islam. Disyariatkan pertama kali pada bulan Sya’ban tahun kedua semenjak peristiwa hijrahnya Nabi SAW dari Mekkah ke Madinah. Tepat pada tahun dimana diwajibkannya syariat puasa bulan ramadhan. Adapun dalil kewajiban zakat fitri antara lain QS. Al-A’laa (87) ayat 14-15.

 

 

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.

Ayat di atas menurut riwayat Ibnu Khuzaimah diturunkan ketika berkenan dengan zakat fitrah, yaitu pada malam takbir hari raya dan sembahyang Idul Fitri. Berdasarkan ayat tersebut dapat diambil pengertian bahwa dengan menunaikan zakat fitrah dapat menjadi wasilah untuk mendapatkan keuntungan dan kemenangan.

Tujuan disyariatkannya zakat fitrah lainnya adalah untuk mengangkat beban orang-orang fakir. Sehingga zakat fitrah di hari raya dapat menjadikan mereka untuk tidak perlu meminta-minta sekaligus membahagiakan mereka di hari itu. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw.


 

 

 

Dari Ibnu Umar r.a., bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Cukupilah mereka di hari ini.” (HR. Ad-Daruquthni), dan di dalam redaksi riwayat imam Al-Baihaqi disebutkan “Jadikanlah mereka tidak butuh dari keliling di hari ini”

Hari raya adalah hari gembira dan bersuka cita, karenanya kegembiraan itu harus ditebarkan pada seluruh anggota masyarakat Muslim. Akan tetapi bagi muslim yang miskin tidak akan merasa bahagia, apabila ia melihat orang kaya dan orang yang mampu makan segala apa yang nikmat dan baik, sementara mereka tidak mampu mendapatkan makanan pada hari raya. Tetapi melalui zakat dapat menumbuhkan rasa kecintaan orang-orang diantara sesama.

Ukuran Zakat Fitrah

Jenis benda yang dikeluarkan untuk zakat fitrah adalah makanan pokok. Untuk Indonesia adalah beras pada umumnya, ada juga orang yang berzakat dengan menggunakan uang sebagai gantinya senilai beras pada waktu itu. Menurut Imam Malik dalam penjelasannya mengenai ukuran zakat fitrah terdapat beberapa penjelasan, Imam Malik mengatakan, “Semua kafarat, zakat fitrah, zakat bijibijian diukur dengan mud kecil, yakni mud Nabi Muhammad SAW, kecuali kafarat zhihar diukur dengan mud Hisyam, yaitu ukuran mud besar.128 Berdasarkan dari penjelasan Imam Malik diatas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya dalam penyerahan benda zakat harus berupa bahan makanan pokok, tidak menggunakan uang sebagai alat bayar zakat. Pada umumnya di Indonesia, berat satu sha’ dibakukan menjadi 2,5 kg. Pembakuan 2,5 kg ini barangkali untuk mencari angka tengahtengah antara pendapat yang menyatakan 1 sha’ adalah 2,75 kg, dengan 1 sha’ sama dengan di bawah 2,5 kg.

Masa Pembayaran Zakat Fitrah

Para fukaha telah sepakat bahwa zakat fitrah itu wajib pada akhir ramadhan, hanya mereka berbeda pendapat mengenai batas waktu wajib itu. Untuk batas awal, sebagian ulama seperti mazhab Maliki dan Hanbali memperbolehkan zakat fitrah ini dibayarkan sebelum waktunya, yaitu dua hari sebelum jatuh tempo pada tanggal 1 Syawal. Sedangkan sebagian dari ulama mazhab Hanafi memperbolehkan zakat fitrah dikeluarkan sejak awal bulan ramadhan. Namun, adapun pendapat al-Hasan bin Ziyad, salah satu ulama dari mazhab Hanafi memfatwakan bolehnya zakat fitrah dibayarkan setahun atau dua tahun sebelum ramadhan. Menurut Abu Hanifah, zakat fitrah boleh dimajukan sampai sebelum bulan puasa. Imam Syafi’i pun memperbolehkan memajukannya hingga awal bulan. Sedangkan Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat boleh dimajukan sekadar satu atau dua hari.

Para Imam sependapat bahwa zakat fitrah itu tidaklah gugur dengan mengundurkannya dari waktu wajib, tetapi menjadi utang yang menjadi tanggung jawabnya sampai lunas dibayar walau hingga akhir usia. Mereka sepakat pula, bahwa tidak boleh menangguhkannya lewat dari hari lebaran. Mengenai batas akhir, jumhur ulama diantaranya mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali menyebutkan bahwa batas akhir untuk menyerahkan zakat fitrah adalah sebelum selesainya pelaksanaan shalat idul fitri. Sehingga menangguhkan waktu pembayaran zakat adalah dosa, seperti halnya shalat bila dilakukan diluar waktunya. Adapun hadis Nabi SAW:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.”

Sebarkan info ini melalui :  
YIAI